suatu waktu sebelum perjalanan gila, antara semarang - jakarta
wajahnya selalu menarik. lengannya sangat kuat, seolah kau bisa meletakkan seluruh harapanmu di sana. dia masih saja membuatku rindu, meski ketika itu dia duduk di sebelahku. memegang kemudi, membetulkan letak kacamata. begitulah, dia punya berbagai alasan untuk membuat hatiku cemburu. secemburu-cemburunya.
sebab mungkin waktuku tidak pernah tepat untuk memilikinya. aku bukan bidadari. aku hanya perempuan kampungan yang mencoba merayunya dengan kata-kata. mungkin hanya ada satu perbedaan antara aku dan cinderella; dia cantik dan aku tidak. tetapi kami sama-sama miskin. dan kekasihku adalah sang pangeran, yang sama gantengnya dengan ksatria dari negeri dongeng.
sering dia bertanya, ‘apa lagi yang harus kulakukan untukmu?’, yang sering kubalas dengan menatap matanya tak berdaya. apa lagi yang bisa kuharapkan, pangeran? sedang hidup bersamamu saja bagiku mungkin satu dari tujuh keajaiban dunia.
tidak ada yang pernah memahami cintaku, tidak juga kamu. sebab dalam diam dan sedih pun, aku masih sibuk mencintaimu.

