header image
 

~

suatu waktu sebelum perjalanan gila, antara semarang - jakarta

wajahnya selalu menarik. lengannya sangat kuat, seolah kau bisa meletakkan seluruh harapanmu di sana. dia masih saja membuatku rindu, meski ketika itu dia duduk di sebelahku. memegang kemudi, membetulkan letak kacamata. begitulah, dia punya berbagai alasan untuk membuat hatiku cemburu. secemburu-cemburunya.

sebab mungkin waktuku tidak pernah tepat untuk memilikinya. aku bukan bidadari. aku hanya perempuan kampungan yang mencoba merayunya dengan kata-kata. mungkin hanya ada satu perbedaan antara aku dan cinderella; dia cantik dan aku tidak. tetapi kami sama-sama miskin. dan kekasihku adalah sang pangeran, yang sama gantengnya dengan ksatria dari negeri dongeng.

sering dia bertanya, ‘apa lagi yang harus kulakukan untukmu?’, yang sering kubalas dengan menatap matanya tak berdaya. apa lagi yang bisa kuharapkan, pangeran? sedang hidup bersamamu saja bagiku mungkin satu dari tujuh keajaiban dunia.

tidak ada yang pernah memahami cintaku, tidak juga kamu. sebab dalam diam dan sedih pun, aku masih sibuk mencintaimu.

Rosenfield

R for round, rest, Rosenfield

Karena hanya Tuhan yang tahu mengapa aku harus menemukanmu, dan kau menemukan aku. Bagiku semuanya tetap misteri. Seperti jawaban atas pertanyaan mengapa bumi itu bulat. Supaya bisa berputar-putarkah? Seperti hari-hari kita yang berputar dari satu titik ke titik yang lain, diulang-ulang hingga kita berdua menjadi bosan.

Sebab aku merasa menemukan cinta dalam dirimu, Rosenfield. Aku tidak tahu kenapa. Segalanya selalu nampak bulat. Berputar. Terkadang sedih, senang. Terkadang yakin, bimbang. Terkadang pula, aku menjadi seperti kanak-kanak polos yang mengimani Santaclaus, bertanya apakah Santa benar-benar akan datang mengisi penuh-penuh kaus kakiku dengan mainan dan coklat?

Rosenfield, apakah kamu sedang membohongiku?

Sebab aku merasa tak pernah menemukan dusta itu di buram matamu. Dalam 254 hari ini, sekitar 22 hari diantaranya kita sarapan bersama. Aku ingat dirimu. Caramu memegang cangkir kopi. Caramu menyendok nasi goreng. Caramu menghembuskan nafas yang dengan begitu bodoh kau campuri dengan asap pembunuh. Tetapi aku suka caramu merokok, dan itu menciptakan dilema baru bagiku. Kau tahu, dilema itu rasanya liat seperti coklat. Dan bulat. Semakin diputar, aku akan merasa semakin dilema. Seperti firasat-firasat aneh ketika malam-malam aku ingin menelponmu. Aku dilema, diantara menyebutnya petunjuk, cobaan, atau bukan apa-apa. Tetapi, seluruh tubuhku bergetar, Rosenfield. Tanpa sebab. Dan Tuhan pun belum ingin menyediakan jawab.

Kemudian kamu sering bertanya padaku, “Apakah kamu bahagia bersamaku?”

Rosenfield, tiba-tiba aku merasa begitu bodoh dan lelah.

Aku ingin berhenti. Berhenti mencari. Berhenti takut, berhenti cemas, berhenti mimpi buruk. Berhenti membuatmu takut, berhenti membuatmu cemas, berhenti memberimu mimpi buruk.

Tersenyumlah untukku, Rosenfield, dan temanilah aku untuk belajar mempercayaimu.

I smiled, waved you goodbye, and left. I guessed I’m strong until the sound of a whistle broke it all. I hate each time I got to let you go.

~~~

You said you couldn’t stand to see my heart broken. So when you broke it, did you close your eyes?

broken promises

When a blow has struck, everything broke in a moment. Were all the promises made of glass??

play and help!

Dear friends,
Started from October 7th 2007 we can feed hungry people all over the world for free! We will help providing free rice for them only by playing a vocabulary game at www.freerice.com. We will donate 20 grains of rice for each correct word, and you can play it as long as you want, till you drop.
This great website is a sister site of www.poverty.com, and supported by United Nations World Food Program.